TEORI SPSIOLOGI MODERN

Pemikiran Comte yang mempengaruhi lahirnya pendekatan fungsionalisme ada pada sejarah manusia atau kebudayaan manusia yang didasarkan pada ilmu pengetahuan sehingga manusia dapat mengembangkan pemikirannya dan dapat berfikir segala kejadian yang ada tercipta berdasarkan fungsi masing- masing. Comte memiliki pemikiran tentang tiga tahapan perkembangan manusia. Yang pertama tahapan teologis yang mendefinisikan pemikiran manusia hanya sampai pada hal-hal yang berhubungan dengan supranatural. Tahapan yang kedua adalah tahapan metafisik yang ditandai dengan pemikiran manusia yang menganggap bahwa gejala atau kejadian dapat dijalaskan dengan panca indra. Tahapan yang ketiga yaitu, tahapan positifisme. Tahapan ini merupakan kemajuan pemikiran manusia, dengan tidak lagi memikirkan pengertian absolut dan hal – hal supranatural.
Spencer seringkali menganalisis masyarakat sebagai sistem evolusi sosio-kultural, ia juga menjelaskan definisi tentang “hukum rimba” dalam ilmu sosial. Teori ini merupakan perkembangan dari teori Comte yang menjelaskan bahwa, masyarakat berkembang menurut cara-cara sendiri mulai dari bentuk yang sederhana sampai ke bentuk – bentuk yang lebih kompleks. Fungsi – fungsi yang dimiliki masing – masing bagian dari masyarakat dalam kehidupan sosial digunakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Perubahan pada suatu bagian dalam sistem akan mempengaruhi bagian lain, karena saling ketergantungan namun dapat dipelajari secara terpisah.
Dukheim mengemukakan prinsip dasar dalam fungsionalisme modern, bahwa asal – usul suatu gejala sosial dan fungsi – fungsinya merupakan dua masalah yang terpisah. Jika menjelaskan suatu gejala sosial maka harus dipisakan sebab dan fungsi dijalankannya. Karena kemungkinan sebab fakta sosial tersebut merupakan akibat dari fakta sosial yang terdahulu. Dalam ’mazhab’ studi agama, Durkheim sering dikategorikan sebagai seorang functionalist, yang beranggapan bahwa agama merupakan representasi kolektif (collective representation) sebuah masyarakat. Baginya, agama merupakan elemen integratif yang berperan menguatkan kohesivitas sosial. Agama dan aturan- aturan moral lainnya, menurut Durkheim, selalu muncul dari masyarakat kolektif, dan tidak dari individu.
Pemikiran Weber tentang pendekatan Fungsionalisme memiliki sedikit keterkaitan dengan teori Durkheim tentang fakta sosial, bahwa fakta sosial menurut Weber didasarkan pada motivasi dan tindakan sosial. Weber membagi menjadi empat tipe tindakan sosial. Pertama Rasionalitas Instrumental (Zweckrationalitat), Tindakan rasionalitasyang paling tinggi ini meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar dan berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan alat  yang digunakan untuk mencapainya. Kedua, Rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat-alat hanyalah merupakan objek pertimbangan dan perhitungan yang sadar tetapi tujuan-tujuan yang ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolute merupakan nilai akhir baginya. Yang ketiga, Tindakan tradisional merupakan tipe tindakan social yang bersifat nonrasional. Jika individu memperlihatkan tindakan sebagai perilaku karena kebiasaan tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan. Dan yang Terakhir, Tindakan afektif, tipe tindakan ini ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan sadar.
            Pendekatan fungsionalisme Merton mencoba menunjukkan bahwa struktur sosial memberikan tekanan yang jelas pada orang – orang tertentu dalam masyarakat. Sehingga masyarakat mengalami situasi Konformitas, dimana sarana yang sah digunkaan untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Tetapi akan terjadi sebaliknya, anomi maupun non-konformitas  jika tujuan kultural dan sarana kelembagaan tidak lagi sejalan. Sedangkan struktural fungsional menurut Parson diawali dengan melihat sistem sosial sebagai satu dari tiga cara dimana tindakan sosial bisa terorganisisr. Selain itu terdapat dua tindakan lain yang saling melengkapi, yaitu, sistem struktural yang mengandung nilai dan simbol – simbol serta sistem kepribadian para pelaku individual. Ketertarikannya terhadap sistem sosial menjadikan masyarakat sebagai sistem sosial yang dilihat secara total. Dalam sistem sosial individu saling terhubung melalui konsep status dan peran. Dalam pengertian yang dipakai oleh kaum fungsionalis, status  adalah kedudukan dalam sistem sosial. Sedangkan peranan adalah perilaku yang diharapkan atau perilaku normatif yang melekat pada status.
Merton mengutip tiga postulat yang terdapat dalam analisis fungsional yang kemudian disempurnakannya. Yaitu :

1.      Kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi bagai ”suatu keadaan dimana seluruh bagian dari sistem sosial bekerja sama dalam suatu tingkat keselarasan atau konsistensi internal yang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang tidak dapat diatasi atau diatur”.(Merton 1967:80)

2.      Fungsionalisme Universal, berkaitan dengan postulat pertama. Bahwa ”seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi – fungsi positif”. (Merton 1967:84)
3.      Postulat Indispensability. Ia menyatakan bahwa ”Dalam setiap tipe peradaban, setiap kebiasaan, ide, objek materiil, dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memilikisejumlah tugas yang harus dijalankan, dan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan sistem sebagai keseluruhan”. (Merton 1967:86)
Pandangan Parsons tentang ”AGIL” merupakan sarana untuk mengkategorikan tindakan atau ”mengklasifikasikan tipe – tipe  peranan dalam sistem sosial”, the Pattern Variables tersebut yaitu :
–Adaptation, kemampuan suatu sistem untuk menjamin apa yang dibutuhkannya dari lingkungan serta mendistribusikan sumber – sumber tersebut ke dalam seluruh sistem.
–Goal Attainment, pemenuhan tujuan sistem dan penetapan prioritas diantara tujuan – tujuan tersebut.
–Integration, koordinasi serta kesesuaian bagian – bagian dari sitem sehingga sesuai dengan fungsi masing – masing.
–Latent pattern – maintenance, menjamin kesinambunagn tindakan dalam sistem sesuai dengan aturan dan norma.
Be the first to like this.

>Etnometodologi (Harold Garfinkel)

by risvianna in Teori Sosiologi Modern

>

TRADISI PEMIKIRAN YANG MEMPENGARUHI LAHIRNYA PENDEKATAN ETNOMETODOLOGI
         
       Harold Garfinkel merupakan seorang tokoh sosiologi yang lahir di new Jersey pada tahun 1917 di tengah – tengah masa depresi dan perang dunia ke-II. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas North Carolina Jurusan Sosiologi pada tahun 1939, Garfinkel mengikuti wajib militer. Setelah perang selesai ia belajar di Harvard dengan Parson, perbedaan penekanan materi antara keduanya terlihat jika Parson lebih menekankan pentingnya kategori – kategori dan generalisasi abstrak sedangkan Garfinkel lebih tertarik pada deskripsi terperinci. Selain itu ia juga belajar dengan Alfred Schutz dengan pendapatnya bahwa dunia sehari – hari merupakan dunia intersubjektif yang dimiliki bersama orang lain dengan siapa kita berinteraksi dan hal ini mirip dengan interaksionisme simbolik milik Mead. Sampai akhirnya di salah satu buku yang dihasilkannya adalah Studies in Ethnometodologi 1967 memberikan cara baru terhadap pemahaman struktur objektif baik mikro maupun makro.
METODE ETNOMETODOLOGI DALAM PENELITIAN SOSIOLOGI
            Istilah etnometodologi, berasal dari bahasa Yunani yang berarti ”metode”  yang biasa digunakan orang dalam menjalani kehidupan sehari – hari mereka yang berlangsung secara terus menerus. Studi awal Garfinkel adalah Studi terhadap Setting Institutional yang memiliki tujuan untuk memahami bagaimana orang menjalankan tugas – tugasnya dan membangun institusi dimana tugas tersebut dijalankan.
            Kemudian ia juga menjelaskan tentang analisis percakapan yang memiliki tujuan memahami secara rinci struktur – struktur Fundamental interaksi percakapan. Etnometodologi juga menjelaskan “pertanggungjawaban tindakan praktis yang rasional” yaitu adanya (1) perbedaan antara ungkapan yang objektif dan yang indeksikal, (2) refleksivitas berbagai tindakan praktis, dan (3) kemampuan menganalisa tindakan tersebut dalam konteks sehari-hari. Ungkapan indeksikal merupakan ungkapan yang dilakukan saat kita menjalankan kegiatan praktis sehari-hari, sedangkan ungkapan objektif digunakan dalam dunia ilmiah.
            Menyadari bahwa realitas sehari-hari sangat berbeda dengan realitas objektif, maka para etnometodologis mengkritik metode survey dan wawancara yang dipakai oleh para sosiolog saat itu dan memperkenalkan metode eksperimental, observasi, dan analisis dokumen yang dinilai relatif lebih baik dalam menyusun proses sosial.
Dalam kerangka penelitian Kualitatif, etnometodologi diposisikan sebagai sebuah landasan teoritis dalam metode tersebut (Maleong, 2004, 14, 24). Etnometodologi sebagai sebuah studi pada dunia subjektif, tentang kesadaran, persepsi dan tindakan individu dalam interaksinya dengan dunia sosial yang ditempatinya sesuai dengan pokok penelitian kualitatif yang juga menekankan pada dunia subjektif dengan setting sosial yang dilibatinya.
.

>Teori Erving Goffman

by risvianna in Teori Sosiologi Modern

>

Tradisi Pemikiran yang Mempengaruhi Lahirnya Teori Dramaturgi
Erving Goffman dikenal sebagai seorang interaksionis, pendekatan dramatruginya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Mead, Blumer, dan Cooley. Adapun pemikiran para sosiolog yang mempengaruhi Goffman ialah :
Ø  Pemikiran Cooley tentang sikap orang lain merupakan cermin bagi diri kita sendiri untuk menilai objek dalam lingkungan sosial.yang dimaksud disini adalah individu membayangkan bagaimana penampilan diri di mata orang lain. Bagaimana penilaian orang lain terhadap diri individu tersebut. Kemudian membayangkan perasaan diri tentang penilaian orang lain tersebut, seperti haraga diri atau rasa malu.
Ø  Pemikiran Blumer mengenai diri merupakan sebuah proses, bukan benda. Diri membantu manusia bertindak tak hanya sekedar memberikan tanggapan semata atas stimulus dari luar.
Ø  Pemikiran Mead tentang “I” dan “me”; ketidaksesuaian antara diri manusiawi dan diri kita sebagai hasil proses sosialisasi. Adanya perbedaan antara sikap spontan kita dengan diri kita yang diharapkan orang lain
Konsep Dramaturgi : Presentation of Self, Role, and Status
Konsep dramaturgi adalah sebuah analogi kreatif dari seorang Erving Goffman, dimana ia memandang kehidupan sosial merupakan pertunjukan drama pentas. Menurut Goffman, diri bukanlah milik aktor, melainkan hasil interaksi dramatis antara aktor dan audiens.
Goffman juga memperkenalkan teknik yang digunakan aktor untuk mempertahankan kesan tertentu dalam menghadapi masalah yang mungkin mereka hadapi dan metode yang mereka gunakan untuk mengatasi masalah ini. Goffman mengambil analogi teatrikal front stage dan back stage. Front stage adalah bagian pertunjukan yang umumnya berfungsi secara pasti dan umum untuk mendefinisikan situasi bagi orang yang menyaksikan pertunjukan. Termasuk di dalam front stage adalah setting dan front personal. Setting adalah pemandangan fisik yang biasanya harus ada jika aktor memainkan perannya, sedangkan front personal berarti berbagai macam barang perlengkapan yang bersifat menyatukan perasaan yang memperkenalkan audiens dengan aktor dan perlengkapan itu diharapkan audiens dipunyai oleh aktor.
Di dalam front personal terdapat penampilan dan gaya. Penampilan ialah berbagai jenis barang yang mengenalkan kita kepada status sosial aktor, sedangkan gaya mengenalkan penonton terhadap peran macam apa yang diharapkan aktor untuk dimainkan dalam situasi tertentu. Front personal menurut Goffman cenderung melembaga, sehingga memunculkan representasi kolektif mengenai apa yang terjadi di front tertentu. Dengan penjelasan lain bahwa peran yang akan dimainkan oleh aktor telah ditentukan bidang pertunjukannya. Pemikiran Goffman tersebut telah memperlebar pendekatannya yang memiliki citra struktural, tak hanya bersifat interaksionisme simbolik.
Orang pada umumnya mencoba mempertunjukkan gambaran yang sempurna mengenai diri mereka sendiri di hadapan umum, sehingga terkadang mereka menyembunyikan rahasia pribadi dari hadapan orang banyak. Peran dalam sudut pandang dramaturgi ialah konsekuensi dari status seseorang. Peran sendiri dapat dikategorikan ke dalam tiga kategori, yaitu peran yang berhubungan dengan pekerjaan, seperti seorang dokter, polisi, dosen, supir taksi, dll. Ada pula peran keluarga seperti seorang ayah, nenek, ibu, anak, dll, yang terakhir peran orang ke orang, seperti tetangga, teman, dll. Status seseorang dapat dilihat dari sejauh mana seseorang memerankan perannya dengan baik.
Konsep Framing : Stereotipe, Stigma, dan Analisis Framing
Goffman membuat kategori tentang stigma, yaitu orang yang direndahkan (stigma diskredit) dan orang yang dapat direndahkan (discreditable stigma). Orang yang direndahkan ialah orang yang memiliki cacat atau kekurangan yang kasat mata, seperti orang pincang, orang buta, dll. Sedangkan orang yang dapat direndahkan memiliki aib yang tak kasat mata, seperti pelaku homoseks.
Stereotipe merupakan generalisasi atas status seseorang berdasarkan kelompok atau grup yang diikutinya, sebagai contoh, seorang dokter yang bekerja di sebuah klinik yang sedang tertimpa kasus malpraktek, walaupun ia bukanlah dokter yang dimaksud, namun pandangan audiens terhadapnya adalah curiga terhadap kemungkinan malpraktek juga.
Analisis framing merupakan definisi situasi yang dibentuk sesuai dengan prinsip-prinsip organisasi yang mengatur peristiwa-peristiwa, paling tidak peristiwa sosial, dan keterlibatan subyetif kita di dalamnya. Dengan arti, kita belajar memaknai suatu peristiwa dan realitas  sesuai dengan pengalaman yang telah kita dapatkan dalam suatu organisasi sosial masyarakat yang kemudian menjadi tindakan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s